PEMBESARAN IKAN PATIN (Pangasius sp) DENGAN SISTEM KERAMBA JARING APUNG DI SUNGAI BENGAWAN SOLO DESA SIDOMUKTI KECAMATAN BUNGAH

Diusulkan oleh :
HERYAWAN ACHMAD ARDIANSYAH
NIM : 11.122.010
PROGRAM
STUDI BUDI DAYA PERIKANAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH GRESIK
2014
PROPOSAL
PRAKTIK KERJA LAPANG
PEMBESARAN IKAN PATIN (Pangasius sp) DENGAN SISTEM KERAMBA JARING APUNG DI SUNGAI BENGAWAN SOLO
DESA SIDOMUKTI KECAMATAN BUNGAH
Oleh:
HERYAWAN
ACHMADARDIANSYAH
NIM:
11.122.010
Disetujui
Pada
tanggal:
Mengetahui,
Dekan Fakultas
Pertanian, Pembimbing,
( Ir. Rahmad Jumadi, M.kes ) ( Farikhah, S.Pi.,M.Si )
PROPOSAL
PRAKTIK KERJA LAPANG
PEMBESARAN IKAN PATIN (Pangasius sp) DENGAN SISTEM KERAMBA JARING APUNG DI SUNGAI BENGAWAN SOLO
DESA SIDOMUKTI KECAMATAN BUNGAH
Oleh
:
HERYAWAN
ACHMAD ARDIANSYAH
NIM
: 11.122.010
Diterima
dan disahkan
Pada
tanggal :
Mengetahui,
Dekan Fakultas
Pertanian, Pembimbing,
( Ir. Rahmad Jumadi, M.kes ) ( Farikhah, S.Pi.,M.Si )
NIP. NIP. 01 210 305 085
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta hidayah-Nya lah penulis dapat menyelesaikann proposal
praktek kerja lapang dengan judul “ PEMBESARAN IKAN PATIN (Pangasius
sp) DENGAN SISTEM KERAMBA JARING APUNG DI BENGAWAN SOLO DESA SIDOMUKTI
KECAMATAN BUNGAH ” sebatas pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Proposal ini penulis buat sebagai
kelengkapan dari kegiatan praktik kerja lapang yang diselenggarakan oleh
Universitas Muhammadiyah Gresik sebagai sala satu program pendidikan untuk
menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten khususnya dibidang perikanan. Dalam kesempatan ini pula penulis mengucapkan terima kasih kepada yang
terhormat:
1
Bapak Ir. Rahmad Jumadi, M.Kes selaku
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik.
2
Ibu Farikhah, S.Pi., M.Si selaku
Ketua Program Studi Budi Daya Perikanan dan pembimbing praktek kerja lapang
Universitas Muhammadiyah Gresik.
3
Bapak Arif selaku warga Desa Sidomukti
yang telah membantu dalam persiapan pembuatan keramba jaring apung.
4
Teman-teman KKN yang telah membantu
proses pembuatan keramba jaring apung.
5
Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan proposal
ini.
Penulis menyadari penyusunan
proposal ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak, demi
perbaikan proposal di masa yang akan datang.
Gresik, 17 September 2014
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
................................................................................. i
HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................
iii
KATA PENGANTAR
............................................................................. iv
DAFTAR ISI ............................................................................................... v
BAB 1. PENDAHULUAN ......................................................................... 1
1.1 Latar belakang ............................................................................. 1
1.2 Tujuan ........................................................................................ 2
1.3 Manfaat ...................................................................................... 2
BAB
2. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 3
2.1 Klasifikasi dan
morfologi ikan patin ........................................ 3
2.2
Habitat dan kebiasaan
hidup hidup ikan patin .......................... 4
2.3 Pakan dan kebiasaan makan ikan patin
..................................... 5
2.4 Keramba jaring apung ...............................................................
6
2.5 Kerangaka keramba jaring apung
.................................................. 7
2.6
Pelampung keramba jaring apung
....................................................... 8
2.7 Pengikat
keramba jaring apung
.......................................................... 9
2.8 Jangkar
keramba jaring apung
........................................................... 9
2.9 Jaring
keramba jaring apung .............................................................. 10
2.9.1 pemberat keramba jaring apung
.........................................
12
2.9.2 Tali/tambang keramba jaring
apung ................................
12
BAB
3. METODE PRAKTIK KERJA LAPANG ..................................
12
3.1 Tempat
dan waktu praktik kerja lapang .................................... 12
3.2 Bahan dan alat
penelitian .........................................................
12
3.3 Metode praktik
kerja lapang .................................................... 16
3.4 Tahap-tahap
penelitian ..............................................................
3.4.1 Tahap persiapan
..........................................................
3.4.2 Pelaksanaan pemeliharaan benih ikan .........................
3.4.3 Evaluasi
.......................................................................
3.5 Jadwal kegiatan
.........................................................................
DAFTAR PUSTAKA
............................................................................... 16
BAB
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Desa
Sidomukti merupakan salah satu Desa yang ada di Kecamatan Bungah, dimana Desa
Sidomukti dilalui Sungai Bengawan Solo yang merupakan sungai terpanjang di
pulau Jawa. Warga Desa Sidomukti memanfaatkan Sungai Bengawan Solo untuk
kegiatan sehari-hari seperti mandi, mencuci baju, masak, minum serta kegiatan
rumah tangga lainnya. Perairan umum sungai, danau, rawa bukan milik
perorangan, kelompok atau badan hukum sehingga dapat dimanfaatkan untuk
berbagai kepentingan (open access)
termasuk untuk perikanan. Untuk sektor perikanan perairan umum berperan besar
sebagai tempat usaha perikanan tangkap, budidaya ikan sistem keramba apung dan
hampang, sumber pendapatan dan sumber protein hewani (Verheught, 1987). Sungai
Bengawan Solo merupakan salah satu sungai yang dapat dimanfaatkan sebagai media
budidaya maupun pembesaran ikan. Salah satu cara untuk melakukan budidaya
maupun pembesaran ikan di Sungai Bengawan Solo adalah dengan sitem keramba
jaring apung. Selama ini daerah yang dilalui oleh Sungai Bengawan Solo hanya
memanfaatkan Sungai Bengawan Solo sebagai tempat untuk penangkapan ikan.
Keramba
jaring apung merupakan salah satu sistem budidaya dimana proses budidayanya
ditempatkan dalam sebuah wadah berupa jaring yang mengapung dengan
bantuan pelampung dan ditempatkan di perairan seperti danau, waduk, laut,
selat, sungai dan teluk. Berbagai komoditi perikanan dapat dibudidayakan pada
media ini, terutama kegiatan pembesaran dan pendederan. Sampai saat ini
kegiatan pembesaran ikan patin secara komersial menggunakan keramba jaring
apung pada perairan umum masih tergolong sedikit. Potensi untuk kegiatan
budidaya ikan air tawar di perairan umum peluangnya masih terbuka lebar.
Mengingat
masih terbuka lebarnya peluang usaha pembesaran atau budidaya dengan sistem
keramba jaring apung maka warga Desa Sidomukti bisa menjadikan Pembesaran ikan
dengan sistem keramba jaring apung sebagai salah satu sumber pendapatan
tambahan selain mengandalkan hasil tangkapan, juga hasil dari panen dari usaha
pembesaran atau budidaya dengan sistem keramba jaring apung tersebut dapat
dikonsumsi sendiri yang mana ikan merupakan sumber protein hewani.
Salah satu komoditas ikan yang tepat
untuk dibudidayan atau dibesarkan di Sungai Bengawan Solo dengan sistem keramba
jaring apung adalah ikan patin karena habitat ikan patin adalah di tepi
sungai-sungai besar dan di muara-muara sungai serta danau (Susanto
Heru dan Khairul Amri, 1996). Jenis–jenis ikan patin di Indonesia sangat banyak,
antara lain Pangasius pangasius atau Pangasius jambal, Pangasius
humeralis, Pangasius lithostoma, Pangasius nasutus,
pangasius polyuranodon, Pangasius niewenhuisii. Pangasius sutchi dan
Pangasius hypophtalmus yang dikenal sebagai jambal siam atau lele
bangkok merupakan ikan introduksi dari Thailand (Kordik, 2005). Untuk memanfaatkan
keberadaan sungai Bengawan Solo yang ada di Desa Sidomukti maka dengan adanya
Praktik Kerja Lapang (PKL) ini penulis bermaksud untuk membuat keramba jaring
apung yang akan digunakan untuk pembesaran ikan patin (Pangasius sp)
yang bisa dimanfaatkan oleh warga Desa Sidomukti sebagai media percontohan dan
sumber pendapatan tambahan.
1.2 Tujuan
Tujuan dari PKL ini
adalah untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan pembesaran ikan patin dengan
sistem keramba jaring apung di Sungai
Bengawan Solo yang ada di Desa Sidomukti Kecamatan Bungah.
1.3 Manfaat
Manfaat Praktik Kerja Lapang ini adalah dapat menjadi proyek
percontohan untuk pembuatan keramba jaring apung di Bendungan Gerak Sembayat
(BGS) yang sekarang dalam proses pengerjaan. Manfaat yang kedua dengan adanya pembuatan
keramba jaring apung ini maka para penduduk Desa Sidomukti khususnya Dusun
Pucung dapat menjadikan keramba jaring apung sebagai sumber mata pencaharian tambahan
selain dari hasil penangkapan ikan di Sungai Bengawan Solo.
BAB
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Klasifikasi dan morfologi ikan patin
Menurut Saanin (1984),
klasifikasi ikan patin sebagai berikut :
Filum
: Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas :
Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo :
Ostariophysi
Sub Ordo : Siluroidei
Famili :
Schilbeidae
Genus :
Pengasius
Spesies :
Pangasius hypopthalmus

Gambar
1. Ikan patin (Pangasius sp) Sumber : (Dokumentasi pribadi, 2014)
Ikan
patin (Pangasius sp.) adalah salah satu ikan asli perairan Indonesia.
Jenis–jenis ikan patin di Indonesia sangat banyak, antara lain Pangasius
pangasius atau Pangasius jambal, Pangasius humeralis, Pangasius
lithostoma, Pangasius nasutus, pangasius polyuranodon, Pangasius
niewenhuisii. Pangasius sutchi dan Pangasius hypophtalmus yang
dikenal sebagai jambal siam atau lele bangkok merupakan ikan introduksi dari
Thailand (Kordik, 2005).
Ikan patin mempunyai bentuk tubuh memanjang,
berwarna putih perak
dengan punggung
berwarna kebiruan. Ikan patin tidak memiliki sisik, kepala ikan patin relatif
kecil dengan mulut terletak diujung kepala agak ke bawah. Hal ini merupakan
ciri khas golongan catfish. Panjang tubuhnya dapat mencapai 120 cm. Sudut
mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba. Sirip
punggung memiliki sebuah jari–jari keras yang berubah menjadi patil yang besar
dan bergerigi di belakangnya, sedangkan jari–jari lunak pada sirip punggungnya terdapat
6 – 7 buah (Kordik, 2005).
Pada
permukaan punggung terdapat sirip lemak yang ukurannya sangat kecil dan sirip
ekornya membentuk cagak dengan bentuk simetris. Sirip duburnya agak panjang dan
mempunyai 30 – 33 jari-jari lunak, sirip perutnya terdapat 6 jari-jari lunak.
Sedangkan sirip dada terdapat sebuah jari-jari keras yang berubah menjadi
senjata yang dikenal sebagai patil dan memiliki 12 – 13 jari-jari lunak
(Susanto Heru dan Khairul Amri, 1996).
2.2 Habitat dan
daur hidup ikan patin (Pangasius
sp)
Habitat ikan patin
adalah di tepi sungai – sungai besar dan di muara – muara sungai serta danau.
Dilihat dari bentuk mulut ikan patin yang letaknya sedikit agak ke bawah, maka
ikan patin termasuk ikan yang hidup di dasar perairan. Ikan patin sangat terkenal
dan digemari oleh masyarakat karena daging ikan patin sangat gurih dan lezat
untuk dikonsumsi (Susanto Heru dan Khairul Amri, 1996). Patin dikenal sebagai hewan
yang bersifat nokturnal, yakni melakukan aktivitas atau yang aktif pada malam
hari. Ikan ini suka bersembunyi di liang – liang tepi sungai. Benih patin di alam biasanya
bergerombol dan sesekali muncul di permukaan air untuk menghirup oksigen
langsung dari udara menjelang fajar. Untuk budidaya ikan patin, media atau
lingkungan yang dibutuhkan tidaklah rumit, karena patin termasuk golongan ikan
yang mampu bertahan pada lingkungan perairan yang jelek. Walaupun patin dikenal
ikan yang mampu hidup pada lingkungan perairan yang jelek, namun ikan ini lebih
menyukai perairan dengan kondisi perairan baik (Kordik, 2005).
Menurut
Kordik (2005), Air yang digunakan untuk pemeliharaan ikan patin harus memenuhi
kebutuhan optimal ikan. Air yang digunakan kualitasnya harus baik. Ada beberapa
faktor yang dijadikan parameter dalam menilai kualitas suatu perairan, sebagai
berikut:
1. Oksigen terlarut
antara 3 – 7 ppm, optimal 5 – 6 ppm.
2. Suhu 25 – 330
C.
3. pH air 6,5 – 9,0 ;
optimal 7 – 8,5.
4. Karbondioksida (CO2)
tidak lebih dari 10 ppm
5. Amonia (NH3)
dan asam belerang (H2S) tidak lebih dari 0,1 ppm.
6.
Kesadahan 3 – 8 dGH (degress of German total Hardness)
2.3 Pakan
dan kebiasaan makan ikan patin (Pangasius
sp) Ikan patin (Pangasius sp)
memerlukan
sumber energi yang berasal dari
makanan untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya (SUSANTO, 1996). Dilihat
dari kebiasaan makanan ikan dibagi dalam tiga golongan, yaitu ikan pemakan
tumbuhan (herbivora), ikan pemakan hewan (carnivora) dan ikan pemakan segala (omnivora).
Di perairan
bebas dan alam, fase larva ikan patin
(Pangasius sp) cenderung
bersifat karnivora. Di dalam kolam-kolam pemeliharaan ikan ini bersifat omnivora, yaitu memakan
segala macam pakan baik jasad-jasad hewani maupun nabati, misalnya maca-macam
buah-buahan dari tumbuhan pinggir sungai, biji-bijian, udang (Crustacea),
Molusca, Copepoda, Ostracoda, Cladosera, Isopoda, Amphipoda, cacing dan
sisa-sisa organisme lainnya. Jenis
makanan yang dapat dimakan larva berumur sekitar 4 – 5 hari adalah organisme
renik berupa plankton. Mula-mula larva ikan memakan plankton nabati
(phytoplankton) yang berukuran 100 – 300 mikron, misalnya Brachionus calicyflorus,
Synchaeta sp, Notholca sp, Polyarthra platiptera, Hexartha mira, Brachionus
falcatus, Asplanchna sp, Chonchilus sp, Filina sp, Brachionus angularis,
Karatella cochlearis dan Keratella quadrata (NUGRAHA, 2007). Makanan ikan
patin (Pangasius
sp) berubah sejalan dengan pertambahan
umur dan perkembangannya. Benih ikan patin (Pangasius
sp)
yang berumur 20 hari sanggup memakan plankton
(pakan alami) berukuran 0,5 -2,0 mm. Benih yang cukup besar atau benih tua
mulai menyantap makanan alami yang berukuran lebih besar, misalnya Paramaecium,
naupli Artemia, Cladocera, (Sida
sp., Diaphanasoma sp., Dapnia sp., Moina sp., Bosmina sp., Chidorus sp., dan
Copepoda seperti Cyclop sp. (NUGRAHA,
2007). Dilihat dari
kebiasaan makan ikan dibagi dalam tiga golongan, yaitu ikan yang biasa makan di
dasar, ikan yang biasa makan di tengah perairan dan ikan yang biasa makan di
permukaan. Menurut LING et al., (1966) ; DAVID (1963) dalam SOETIKNO (1974) ;
DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN (1977) ; ONDARA (1980) ; BUCHANAN (1983), Larva ikan patin (Pangasius sp) cenderung memangsa hewan-hewan kecil lain yang hidup
di permukaan sediment atau yang melayang-layang di air, seperti larva insekta
dan larva Crustacea. Sedangkan menurut SOETIKNO (1976) dan DIREKTORAT JENDERAL
PERIKANAN (1977), ikan patin (Pangasius
sp)
termasuk
ikan bottom feeder.
2.4 Keramba jaring apung Keramba
jaring apung adalah sistem budidaya dalam wadah berupa jaring yang mengapung
dengan bantuan pelampung dan ditempatkan di perairan seperti danau, waduk,
sungai, selat dan teluk. Sistem ini terdiri dari beberapa komponen seperti
rangka, kantong jaring, pelampung, jalan inspeksi dan rumah jaga. Kantong
jaring terbuat dari bahan polyethelene dan polyprophelene dengan berbagai
ukuran mata jaring dan berbagai ukuran benang, berfungsi sebagai wadah untuk
pemeliharaan dan treatment ikan. Pelampung terbuat dari drum plastik, drum besi
bervolume 200 liter, styrofoam atau gabus yang dibungkus dengan kain terpal
yang berfungai untuk mempertahankan kantong jaring tetap mengapung di dekat
permukaan air (Seputar Informasi Perikanan dan Kelautan, 2008).

Gambar 2. Keramba jaring apung . Sumber : (Direktorat
jenderal perikanan, Departemen pertanian, 1994)
Rochdianto (2005) menambahkan,
Keramba jaring apung ditempatkan dengan kedalaman perairan lebih dari 2 meter.
Beberapa masyarakat ada yang menyebut kantong jaring apung, keramba kolam
terapung dan jaring keramba terapung atau disingkat kajapung.
2.5 Kerangka keramba jaring apung Kerangka
(bingkai) jaring terapung dapat dibuat dari bahan kayu, bambu atau besi yang dilapisi bahan anti karat (cat besi). Memilih bahan untuk
kerangka, sebaiknya disesuaikan dengan ketersediaan bahan di lokasi budidaya
dan nilai ekonomis dari bahan tersebut. Kayu atau bambu secara ekonomis
memang lebih murah dibandingkan dengan besi anti karat, tetapi jika dilihat
dari masa pakai dengan menggunakan kayu atau bambu jangka waktu (usia
teknisnya) hanya 1,5–2 tahun. Sesudah 1,5–2 tahun masa pakai, kerangka yang
terbuat dari kayu atau bambu ini
sudah tidak layak pakai dan harus direnofasi kembali. Jika akan memakai
besi anti karat sebagai kerangka jaring pada umumnya usia ekonomis/angka waktu
pemakaiannya relatif lebih lama,
yaitu antara 4–5 tahun. Pada
umumnya petani ikan di jaring terapung menggunakan bambu sebagai bahan utama
pembuatan kerangka, karena selain harganya relatif murah juga ketersediaannya
di lokasi budidaya sangat banyak. Bambu yang digunakan untuk kerangka sebaiknya
mempunyai garis tengah 5–7 cm di bagian pangkalnya, dan bagian ujungnya
berukuran antara 3–5 cm. Jenis bambu yang digunakan adalah bambu tali. Ada juga
jenis bambu gombong yang mempunyai diameter
12-15 cm tetapi jenis bambu ini kurang baik digunakan untuk kerangka karena
cepat lapuk. Ukuran
kerangka jaring terapung berkisar antara 5*5 m
sampai 10*10 m.. Kerangka dari jaring apung umumnya dibuat tidak hanya
satu petak/kantong tetapi satu unit.
Satu unit jaring terapung terdiri dari empat buah petak/kantong.
2.6 Pelampung keramba jaring apung
Pelampung berfungsi untuk mengapungkan kerangka/jaring
terapung. Bahan yang digunakan sebagai pelampung berupa drum (besi atau plastik) yang berkapasitas 200 liter, busa plastik
(stryrofoam) atau fiberglass.
Jenis pelampung yang akan digunakan biasanya dilihat berdasarkan lama
pemakaian.

Gambar 3.
Pelampung keramba jaring apung. Sumber :
(Direktorat jenderal perikanan, Departemen pertanian, 1994)
Jika akan menggunakan pelampung dari drum maka drum
harus terlebih dahulu dicat dengan menggunakan cat yang mengandung bahan anti
karat. Jumlah pelampung yang akan digunakan disesuaikan dengan besarnya
kerangka jaring apung yang akan dibuat. Jaring terapung berukuran 7*7 m, dalam
satu unit jaring terapung membutuhkan pelampung antara 33–35 buah.
2.7 Pengikat keramba jaring apung Tali
pengikat sebaiknya terbuat dari bahan yang kuat, seperti tambang plastik, kawat
ukuran 5 mm, besi beton ukuran 8 mm atau 10 mm. Tali pengikat ini digunakan
untuk mengikat kerangka jaring terapung, pelampung atau jaring. Jika akan
menggunakan pelampung dari drum maka drum harus terlebih dahulu dicat dengan
menggunakan cat yang mengandung bahan anti karat. Jumlah pelampung yang akan
digunakan disesuaikan dengan besarnya kerangka jaring apung yang akan dibuat.
Jaring terapung berukuran 7*7 m, dalam satu unit jaring terapung membutuhkan
pelampung antara 33–35 buah.
Gambar 4.
Pengikat keramba jaring apung. Sumber : (Direktorat jenderal perikanan, Departemen
pertanian, 1994)
2.8 Jangkar keramba jaring apung
Jangkar berfungsi sebagai penahan
jaring terapung agar rakit jaring terapung tidak hanyut terbawa oleh arus air dan angin yang kencang. Jangkar
terbuat dari bahan batu, semen atau besi. Pemberat diberi tali pemberat/tali
jangkar yang terbuat dari tambang plastik yang berdiameter sekitar 10–15 mm.
Jumlah pemberat untuk satu unit jaring terapung empat petak/kantong adalah
sebanyak 4 buah. Pemberat diikatkan pada masing-masing sudut dari kerangka
jaring terapung. Berat jangkar berkisar antara 50–75 kg.

Gambar 5.
Jangkar keramba jaring apung. Sumber : (Direktorat jenderal perikanan, Departemen
pertanian, 1994)
2.9 Jaring keramba jaring apung
Jaring yang digunakan untuk budidaya ikan di perairan
umum, biasanya terbuat dari bahan polyethylene atau disebut jaring trawl.
Ukuran mata jaring yang digunakan tergantung dari besarnya ikan yang akan
dibudidayakan. Kantong jaring terapung ini mempunyai ukuran bervariasi
disesuaikan dengan jenis ikan yang dibudidayakan, untuk ikan air laut ukuran
kantong jaring yang biasa digunakan berukuran mulai 2*2*2 m3 sampai
5*5*5 m3. Sedangkan untuk jenis ikan air tawar berkisar antara 3*3*3 m3
sampai 7*7*2,5 m3. Untuk mengurangi risiko kebocoran akibat gigitan
binatang lain, biasanya kantong jaring terapung dipasang rangkap (doubel) yaitu
kantong jaring luar dan kantong jaring dalam. Ukuran jaring bagian luar
biasanya mempunyai mata jaring (mesh
size) yang lebih besar. Salah satu contohnya adalah sebagai
berikut :
a. Jaring
polyethylene no. 380 D/9 dengan ukuran mata jaring (mesh size) sebesar 2 inch
(5,08 cm) yang dipergunakan sebagai kantong jaring luar.
b. Jaring
polyethylene no. 280 D/12 dengan ukuran mata jaring 1 inch (2,5 cm) atau 1,5
inch (3,81 cm) dipergunakan sebagai kantong jaring dalam. Jaring yang mempunyai
ukuran mata jaring lebih kecil dari 1 inch biasanya digunakan untuk memelihara
ikan yang berukuran lebih kecil. Di perairan umum, khususnya dalam budidaya
ikan di jaring terapung ukuran jaring yang digunakan adalah ukuran ¾ - 1 inch. Kantong jaring yang
digunakan untuk memelihara ikan dapat diperoleh dengan membeli jaring utuh.
Dalam hal ini biasanya jaring trawl dijual di pasaran berupa lembaran atau
gulungan. Langkah awal yang harus dilakukan untuk membuat kantong jaring adalah
membuat desain/rancangan kantong jaring yang akan dipergunakan. Ukuran kantong
jaring yang akan dipergunakan berkisar antara 2*2 m sampai dengan 10*10 m. Setelah ukuran
kantong jaring yang akan dipergunakan, misalnya akan dibuat kantong jaring
dengan ukuran 7*7*2 m3, langkah selanjutnya adalah memotong jaring.
Untuk memotong jaring harus dilakukan dengan benar berdasarkan pada ukuran mata
jaring dan tingkat perenggangannya saat terpasang di perairan. Menurut hasil
penelitian, jaring dalam keadaan terpasang atau sudah berupa kantong jaring
akan mengalami perenggangan atau mata jaring dalam keadaan tertarik/terbuka
(”Hang In Ratio”). Nilai ”Hang In Ratio” dalam
membuat kantong jaring terapung adalah 30%. Adapun perhitungan yang digunakan
untuk memotong jaring ada dua cara, yaitu :
1. Menggunakan
rumus tertentu
2.
|
Keterangan :
S : Hang In Ratio
L : Panjang jaring sebelum Hang In atau dalam keadaan tertarik
i : Panjang tali ris
D : dalam kantong jaring (jumlah mata jaring dikalikan ukuran mata jaring dalam keadaan tertarik)
d : dalam kantong jaring sesudah Hang In
S : Hang In Ratio
L : Panjang jaring sebelum Hang In atau dalam keadaan tertarik
i : Panjang tali ris
D : dalam kantong jaring (jumlah mata jaring dikalikan ukuran mata jaring dalam keadaan tertarik)
d : dalam kantong jaring sesudah Hang In
2.9.1 Pemberat keramba jaring apung Pemberat
yang digunakan biasanya terbuat dari batu atau timah yang masing-masing
beratnya antara 2–5 kg. Fungsi pemberat ini agar jaring tetap simetris dan
pemberat ini diletakkan pada setiap sudut kantong jaring terapung.
2.9.2 Tali/tambang
keramba jaring apung Tali/tambang
yang digunakan biasanya disesuaikan dengan kondisi perairan, pada perairan
tawar adalah tali plastik yang mempunyai diameter 5–10 mm, sedangkan pada
perairan laut tali/tambang yang digunakan terbuat dari nilon atau tambang yang
kuat terhadap salinitas. Tali/tambang ini dipergunakan sebagai penahan jaring
pada bagian atas dan bawah. Tali tambang ini mempunyai istilah lain yang
disebut dengan tali ris. Panjang tali ris
adalah sekeliling dari kantong jaring terapung. Misalnya, kantong jaring
terapung berukuran 7*7*2 m3, maka tali risnya adalah 7m*4 sisi = 28m..
Khusus untuk tali ris pada bagian atas sebaiknya dilebihkan 0,5 m untuk setiap
sudut. Jadi tali risnya mempunyai panjang 28 m + ( 4*0,5 m) = 30m. Hal ini
untuk memudahkan dalam melakukan aktivitas kegiatan operasional pada saat
melakukan budidaya ikan.
BAB 3. METODE PRAKTIK KERJA LAPANG
3.1
Tempat dan waktu praktik kerja lapang
Praktik kerja lapang (PKL)
Universitas Muhammadiyah Gresik yang berjudul “Pembesaran Ikan Patin (Pangasius sp) di Keramba Jaring Apung Sungai Bengawan Solo Desa Sidomukti
Kecamatan Bungah” akan dilaksanakan di Desa Sidomukti Kecamatan Bungah
Kabupaten Gresik pada tanggal 26
September 2014 – 9 Desember 2014
3.2 Bahan dan alat
penelitian Bahan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah 50 benih ikan patin dengan berat
rata-rata 8gr, pakan pellet dengan kandungan protein 35%, sedangkan bahan untuk
pembuatan keramba jaring apung adalah bambu, tali, kawat, waring, semen, pasir,
air dan kabel tis. Peralatan yang
digunakan yaitu jaring/seser, ember, mistar
plastik, termometer, pH paper, serta
timbangan digital.
3.3 Metode praktik
kerja lapang
Metode yang
akan digunakan dalam praktek kerja lapangan ini adalah metode deskriptif, yaitu
pengumpulan data dari beberapa literatur untuk dijadikan acuan selama Praktek
Kerja Lapang. Pengamatan dilakukan selama 1 (satu) kali dalam satu minggu dan
pengamatan ini dilakukan dalam waktu 2 (dua) bulan. Pengumpulan data dilakukan
dengan observasi dan wawancara dengan melibatkan diri secara langsung dalam
pencarian gambaran mengenai pertumbuhan ikan patin yang dipelihara dengan
sistem keramba jaring apung.
3.4 Prosedur penelitian
Prosedur
penelitian terbagi menjadi tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan dan
evaluasi.
3.4.1 Tahap
persiapan
Tahap persiapan dalam penelitian ini
adalah persiapan pembuatan keramba jaring apung sebagai media utama pembesaran
ikan patin (pangasius sp) di Sungai
Bengawan Solo. Persiapan ini meliputi proses pemotongan bambu, pembuatan
jangkar dari semen, perangkaian keramba, serta pemasangan keramba.
Pembuatan keramba jaring apung dimulai
pada tanggal 14 September 2014 – 12
Oktober 2014 setiap hari sabtu dan minggu. Bambu yang digunakan
berjumlah 14 buah yang terdiri atas 8 buah bambu sebagai kerangka atas, 2 buah bambu untuk kerangka bawah dan 4
buah bambu dengan tinggi 3m sebagai
tiang yang diletakkan pada tiap sudut bambu.
Menjahit waring sepanjang 32m dengan mesh
size sebesar 250 mm menjadi persegi sebagai
tempat pembesaran ikan patin dalam keramba. Pembuatan jangkar dari bahan
semen, pasir dan air yang diletakkan dalam wadah cat bekas dan pemberian
pemberat berupa batu pada dasar rangka keramba yang dimasukkan kedalam sebagian
waring.
3.4.2
Pelaksanaan pemeliharaan benih ikan patin Melakukan
penimbangan benih dengan menggunakan timbangan digital, mengukur panjang total
benih, memasukkan benih ikan patin
dengan kepadatan 68 ekor/m² dengan
ukuran 8-10 cm. Benih tersebut dipelihara selama 60 hari. Pakan
diberikan 2 kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari yaitu pada pukul 09.00
dan 15.00 (Khairuman dan Amri, 2002). Hal tersebut dikarenakan, proses
metabolisme dalam tubuh ikan membutuhkan waktu 6 jam untuk mencerna makanan.
Prosentase pemberian pakan pada minngu
pertama sebesar 3% dari bobot awal ikan patin yaitu sebesar 5,29 gr/hari.
Pemberian pakan pada minggu kedua dan ketiga sebesar 8% dari bobot ikan patin
yaitu sebesar 13,46 gr/hari.
Melakukan pengukuran kualitas air yang
meliputi suhu, pH dan salinitas setiap satu minggu sekali. Melakukan pengukuran
panjang dan berat ikan setiap satu minggu sekali dengan menggunakan sampel.
3.4.3
Evaluasi Parameter
utama dalam penelitian ini adalah pertumbuhan benih dan kelangsungan hidup. Perhitungan
Pertumbuhan benih akan diketahui dengan melakukan pengukuran berat dengan
menggunakan timbangan serta menggunakan rumus (Sahoo et al., 2004) :
Laju pertumbuhan spesifik :
t
Keterangan :
SGR : Laju pertumbuhan spesifik (%g/hari)
Wt : Berat rata-rata tubuh ikan pada hari
ke-n (g)
W0 : Berat rata-rata tubuh ikan pada awal
pemeliharaan (g)
t :
Waktu (hari)
Kelangsungan
hidup larva akan diketahui dengan menggunakan rumus (Mukti et al., 2004).
SR (Kelangsungan
hidup)= Jumlah burayak akhir perhitungan x 100 %
Jumlah burayak awal perhitungan
3.5 Jadwal kegiatan
|
No
|
Kegiatan
|
Bulan/minggu
|
|||||||||||||||
|
September
|
Oktober
|
November
|
Desember
|
||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1
|
Pembuatan keramba jaring apung
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Penyusunan proposal PKL
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Pemeliharaan ikan patin
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Penyusuna laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Daftar pustaka
Sunarma,
A. 2007. Panduan Singkat Teknik Pembenihan Ikan Patin (Pangasius
hypopthalmus). Sukabumi: BBPBAT.
Susanto dan Amri. 2001. Budidaya Ikan Patin.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Anonim. 2008. Aspek produksi,
budidaya pembesaran ikan patin. http://ikanmania.wordpress.com
/2008/01/22/aspek-produksi-budidaya-pembes aran-ikan-patin/. (dimuat pada
tanggal 5 April 2009).
Rosman E. 2008. Perubahan pola panen
budidaya ikan patin dalam upaya maksimalisasi laba (studi kasus pada petani
ikan sifana) [tesis]. Program pascasarjana Manajemen dan Bisnis, Institut
Pertanian Bogor.
Asmawi, S. 1986. Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba. Cetakan Kedua. PT.
Gramedia, Jakarta. 44 hal.
Djarijah.A.A.2001. Budidaya Ikan
Patin. Kanasius. Yogyakarta 87 hal.
Hardjamulia, A. 1975. Cara Memelihara dan Menternakkan Ikan Jambal Siam.
Departemen Pertanian, Jakarta.
Pataros, M. dan P. Sitasit. 1976. Induced Spawning . Teknical Paper No. 15
Freswater Fisheries Division. Departement of Fissheries Bangkok, Thailand. 14
p.
Saanin 1984,
Subagja Y. 2009. Fortifikasi ikan patin (Pangasius sp) [skripsi].
Fakultas Perikanan
Susanto. Dan
K, Amri. 2001. Budidaya Ikan Patin, Penebar Swadaya, Jakarta. 90 hal.
Agribisnis &
Aquacultures. 2008. Prospek Usaha Ikan Patin Menjanjikan.
http://citra
karyanusantara.blogspot.com/. (Akses 10 November 2009).
Djariah,
A.S. 2001. Budi Daya Ikan Patin. Kanisius. Yogyakarta. 87 hal.
Fish blog. 2009.
Syarat Hidup dan Kebiasaan Hidup Ikan Patin.http://hobiikan.
blogspot.com/2009/11/syarat-hidup-dan-kebiasaan-hidup-ikan.
(Akses 17
Februari 2010)
Hernowo. 2001.
Pembenihan Patin Skala Kecil dan Besar, Solusi Permasalahan.
Penebar Swadaya. Jakarta. 66 hal
Kordik, M.G.H.
2005. Budidaya Ika Patin, Biologi, Pembenihan dan Pembesaran.
Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.
170 hal.
Pontianak Post.
2009. Melihat Program Keramba Jaring Apung. http://www.
pontianakpost.com/. (Akses 08 November
2009).
Rochdianto, A.
2005. Budi Daya Ikan di Jaring Terapung. Penebar Swadaya.
Jakarta. 98 hal
Saputra, H.
1988. Membuat dan Membudidayakan Ikan dalam Kantong Jaring
Apung. Simplek. Jakarta. 71 hal
Sulaeman. 2010.
Budidaya Patin. http://budidayaku.blogspot.com/2010/01/
budidaya-patin.html. (Akses 15 Februari
2010)
Susanto, H dan
Amri, K. 2002. Budi Daya Ikan Patin. Penebar Swadaya. Jakarta.
90 hal.
Warintek.
2002. Budidaya Ikan Patin (Pangasius pangasius).
Emzir. 2010. Metodologi
Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Iskandar. 2008. Metodologi
Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitaif dan Kualitatif). Jakarta: Gaung
Persada Group
Sanafiah
Faisal. 1990. Penelitian Kualitatif: Dasar-Dasar dan Aplikasi. Malang:
Suharsimi Arikunto. 2006. Prosedur
Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian
Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: ALFABETA.
2012 (cet. 15)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar