Rabu, 24 Desember 2014

PEMBESARAN IKAN PATIN (Pangasius sp) DENGAN SISTEM KERAMBA JARING APUNG DI SUNGAI BENGAWAN SOLO DESA SIDOMUKTI KECAMATAN BUNGAH



PROPOSAL PRAKTIK KERJA LAPANG

PEMBESARAN IKAN PATIN (Pangasius sp) DENGAN SISTEM  KERAMBA JARING APUNG DI SUNGAI  BENGAWAN SOLO DESA SIDOMUKTI KECAMATAN BUNGAH

logo Fakultas Pertanian warna.bmp


Diusulkan oleh :
HERYAWAN ACHMAD ARDIANSYAH
NIM : 11.122.010





PROGRAM STUDI BUDI DAYA PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK
2014

PROPOSAL PRAKTIK KERJA LAPANG

PEMBESARAN IKAN PATIN (Pangasius sp) DENGAN SISTEM  KERAMBA JARING APUNG DI SUNGAI BENGAWAN SOLO DESA SIDOMUKTI KECAMATAN BUNGAH



Oleh:
HERYAWAN ACHMADARDIANSYAH
NIM: 11.122.010



Disetujui
Pada tanggal:





Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian,                                          Pembimbing,



                                                                       
( Ir. Rahmad Jumadi, M.kes )                                  ( Farikhah, S.Pi.,M.Si )        
  NIP                                                                              NIP. 01 210 305 085


PROPOSAL PRAKTIK KERJA LAPANG

PEMBESARAN IKAN PATIN (Pangasius sp) DENGAN SISTEM  KERAMBA JARING APUNG DI SUNGAI BENGAWAN SOLO DESA SIDOMUKTI KECAMATAN BUNGAH



Oleh :
HERYAWAN ACHMAD ARDIANSYAH
NIM : 11.122.010

Diterima dan disahkan
Pada tanggal :




Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian,                                          Pembimbing,

( Ir. Rahmad Jumadi, M.kes )                                  ( Farikhah, S.Pi.,M.Si )        
  NIP.                                                                          NIP. 01 210 305 085             
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta hidayah-Nya lah penulis dapat menyelesaikann proposal praktek kerja lapang dengan judul “ PEMBESARAN IKAN PATIN (Pangasius sp) DENGAN SISTEM  KERAMBA  JARING APUNG DI BENGAWAN SOLO DESA SIDOMUKTI KECAMATAN BUNGAH ” sebatas pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki.                                                             Proposal ini penulis buat sebagai kelengkapan dari kegiatan praktik kerja lapang yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Gresik sebagai sala satu program pendidikan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten khususnya dibidang perikanan.                                                                                  Dalam kesempatan ini pula penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1         Bapak Ir. Rahmad Jumadi, M.Kes selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik.
2         Ibu Farikhah, S.Pi., M.Si selaku Ketua Program Studi Budi Daya Perikanan dan pembimbing praktek kerja lapang Universitas Muhammadiyah Gresik.
3         Bapak Arif selaku warga Desa Sidomukti yang telah membantu dalam persiapan pembuatan keramba jaring apung.
4         Teman-teman KKN yang telah membantu proses pembuatan keramba jaring apung.
5         Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan proposal ini.     
           Penulis menyadari penyusunan proposal ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak, demi perbaikan proposal di masa yang akan datang.

Gresik, 17 September 2014

                                                                                Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL            .................................................................................  i
HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................  ii
HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................             iii
KATA PENGANTAR  .............................................................................  iv
DAFTAR ISI ............................................................................................... v
BAB 1. PENDAHULUAN ......................................................................... 1
1.1  Latar belakang  .............................................................................            1
1.2  Tujuan  ........................................................................................ 2
1.3  Manfaat  ...................................................................................... 2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 3
            2.1 Klasifikasi dan morfologi ikan patin  ........................................   3
            2.2 Habitat dan kebiasaan hidup hidup ikan patin ..........................  4
2.3 Pakan dan kebiasaan makan ikan patin .....................................  5
2.4 Keramba jaring apung ............................................................... 6
2.5 Kerangaka keramba jaring apung ..................................................  7
2.6 Pelampung keramba jaring apung .......................................................  8
2.7 Pengikat keramba jaring apung ..........................................................   9
2.8 Jangkar keramba jaring apung ...........................................................    9
2.9 Jaring keramba jaring apung ..............................................................  10
            2.9.1 pemberat keramba jaring apung .........................................  12
            2.9.2 Tali/tambang keramba jaring apung ................................   12
BAB 3. METODE PRAKTIK KERJA LAPANG .................................. 12
            3.1 Tempat dan waktu praktik kerja lapang .................................... 12
3.2 Bahan dan alat penelitian  .........................................................  12
3.3 Metode praktik kerja lapang  ....................................................  16
3.4 Tahap-tahap penelitian ..............................................................
            3.4.1 Tahap persiapan ..........................................................
            3.4.2 Pelaksanaan pemeliharaan benih ikan .........................
            3.4.3 Evaluasi .......................................................................
3.5 Jadwal kegiatan .........................................................................
DAFTAR PUSTAKA  ...............................................................................  16





























BAB 1. PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Desa Sidomukti merupakan salah satu Desa yang ada di Kecamatan Bungah, dimana Desa Sidomukti dilalui Sungai Bengawan Solo yang merupakan sungai terpanjang di pulau Jawa. Warga Desa Sidomukti memanfaatkan Sungai Bengawan Solo untuk kegiatan sehari-hari seperti mandi, mencuci baju, masak, minum serta kegiatan rumah tangga lainnya.                 Perairan umum sungai, danau, rawa bukan milik perorangan, kelompok atau badan hukum sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan (open access) termasuk untuk perikanan. Untuk sektor perikanan perairan umum berperan besar sebagai tempat usaha perikanan tangkap, budidaya ikan sistem keramba apung dan hampang, sumber pendapatan dan sumber protein hewani (Verheught, 1987).                                                                                      Sungai Bengawan Solo merupakan salah satu sungai yang dapat dimanfaatkan sebagai media budidaya maupun pembesaran ikan. Salah satu cara untuk melakukan budidaya maupun pembesaran ikan di Sungai Bengawan Solo adalah dengan sitem keramba jaring apung. Selama ini daerah yang dilalui oleh Sungai Bengawan Solo hanya memanfaatkan Sungai Bengawan Solo sebagai tempat untuk penangkapan ikan.
Keramba jaring apung merupakan salah satu sistem budidaya dimana proses budidayanya ditempatkan dalam  sebuah  wadah berupa jaring yang mengapung dengan bantuan pelampung dan ditempatkan di perairan seperti danau, waduk, laut, selat, sungai dan teluk. Berbagai komoditi perikanan dapat dibudidayakan pada media ini, terutama kegiatan pembesaran dan pendederan. Sampai saat ini kegiatan pembesaran ikan patin secara komersial menggunakan keramba jaring apung pada perairan umum masih tergolong sedikit. Potensi untuk kegiatan budidaya ikan air tawar di perairan umum peluangnya masih terbuka lebar.      
Mengingat masih terbuka lebarnya peluang usaha pembesaran atau budidaya dengan sistem keramba jaring apung maka warga Desa Sidomukti bisa menjadikan Pembesaran ikan dengan sistem keramba jaring apung sebagai salah satu sumber pendapatan tambahan selain mengandalkan hasil tangkapan, juga hasil dari panen dari usaha pembesaran atau budidaya dengan sistem keramba jaring apung tersebut dapat dikonsumsi sendiri yang mana ikan merupakan sumber protein hewani.
Salah satu komoditas ikan yang tepat untuk dibudidayan atau dibesarkan di Sungai Bengawan Solo dengan sistem keramba jaring apung adalah ikan patin karena habitat ikan patin adalah di tepi sungai-sungai besar dan di muara-muara sungai serta danau (Susanto Heru dan Khairul Amri, 1996). Jenis–jenis ikan patin di Indonesia sangat banyak, antara lain Pangasius pangasius atau Pangasius jambal, Pangasius humeralis, Pangasius lithostoma, Pangasius nasutus, pangasius polyuranodon, Pangasius niewenhuisii. Pangasius sutchi dan Pangasius hypophtalmus yang dikenal sebagai jambal siam atau lele bangkok merupakan ikan introduksi dari Thailand (Kordik, 2005).                                                                                                                           Untuk memanfaatkan keberadaan sungai Bengawan Solo yang ada di Desa Sidomukti maka dengan adanya Praktik Kerja Lapang (PKL) ini penulis bermaksud untuk membuat keramba jaring apung yang akan digunakan untuk pembesaran ikan patin (Pangasius sp) yang bisa dimanfaatkan oleh warga Desa Sidomukti sebagai media percontohan dan sumber pendapatan tambahan.
1.2  Tujuan 
Tujuan dari PKL  ini adalah untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan pembesaran ikan patin dengan sistem keramba jaring apung di Sungai Bengawan Solo yang ada di Desa Sidomukti Kecamatan Bungah.

1.3  Manfaat 
Manfaat Praktik Kerja Lapang ini adalah dapat menjadi proyek percontohan untuk pembuatan keramba jaring apung di Bendungan Gerak Sembayat (BGS) yang sekarang dalam proses pengerjaan.  Manfaat yang kedua dengan adanya pembuatan keramba jaring apung ini maka para penduduk Desa Sidomukti khususnya Dusun Pucung dapat menjadikan keramba jaring apung sebagai sumber mata pencaharian tambahan selain dari hasil penangkapan ikan di Sungai Bengawan Solo.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi dan morfologi ikan patin

Menurut Saanin (1984), klasifikasi ikan patin sebagai berikut :
Filum               : Chordata
Sub Filum        : Vertebrata
Kelas               : Pisces
Sub Kelas        : Teleostei
Ordo                : Ostariophysi
Sub Ordo        : Siluroidei
Famili              : Schilbeidae
Genus              : Pengasius
Spesies            : Pangasius hypopthalmus

IMG_20141013_221804.jpg
Gambar 1. Ikan patin (Pangasius sp)  Sumber : (Dokumentasi pribadi, 2014)

Ikan patin (Pangasius sp.) adalah salah satu ikan asli perairan Indonesia. Jenis–jenis ikan patin di Indonesia sangat banyak, antara lain Pangasius pangasius atau Pangasius jambal, Pangasius humeralis, Pangasius lithostoma, Pangasius nasutus, pangasius polyuranodon, Pangasius niewenhuisii. Pangasius sutchi dan Pangasius hypophtalmus yang dikenal sebagai jambal siam atau lele bangkok merupakan ikan introduksi dari Thailand (Kordik, 2005).
Ikan patin mempunyai bentuk tubuh memanjang, berwarna putih perak
dengan punggung berwarna kebiruan. Ikan patin tidak memiliki sisik, kepala ikan patin relatif kecil dengan mulut terletak diujung kepala agak ke bawah. Hal ini merupakan ciri khas golongan catfish. Panjang tubuhnya dapat mencapai 120 cm. Sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba. Sirip punggung memiliki sebuah jari–jari keras yang berubah menjadi patil yang besar dan bergerigi di belakangnya, sedangkan jari–jari lunak pada sirip punggungnya terdapat 6 – 7 buah (Kordik, 2005).
Pada permukaan punggung terdapat sirip lemak yang ukurannya sangat kecil dan sirip ekornya membentuk cagak dengan bentuk simetris. Sirip duburnya agak panjang dan mempunyai 30 – 33 jari-jari lunak, sirip perutnya terdapat 6 jari-jari lunak. Sedangkan sirip dada terdapat sebuah jari-jari keras yang berubah menjadi senjata yang dikenal sebagai patil dan memiliki 12 – 13 jari-jari lunak (Susanto Heru dan Khairul Amri, 1996).                                       

2.2 Habitat dan daur hidup ikan patin (Pangasius sp)
       Habitat ikan patin adalah di tepi sungai – sungai besar dan di muara – muara sungai serta danau. Dilihat dari bentuk mulut ikan patin yang letaknya sedikit agak ke bawah, maka ikan patin termasuk ikan yang hidup di dasar perairan. Ikan patin sangat terkenal dan digemari oleh masyarakat karena daging ikan patin sangat gurih dan lezat untuk dikonsumsi (Susanto Heru dan Khairul Amri, 1996).                                                                                                    Patin dikenal sebagai hewan yang bersifat nokturnal, yakni melakukan aktivitas atau yang aktif pada malam hari. Ikan ini suka bersembunyi di liang – liang  tepi sungai. Benih patin di alam biasanya bergerombol dan sesekali muncul di permukaan air untuk menghirup oksigen langsung dari udara menjelang fajar. Untuk budidaya ikan patin, media atau lingkungan yang dibutuhkan tidaklah rumit, karena patin termasuk golongan ikan yang mampu bertahan pada lingkungan perairan yang jelek. Walaupun patin dikenal ikan yang mampu hidup pada lingkungan perairan yang jelek, namun ikan ini lebih menyukai perairan dengan kondisi perairan baik (Kordik, 2005).
Menurut Kordik (2005), Air yang digunakan untuk pemeliharaan ikan patin harus memenuhi kebutuhan optimal ikan. Air yang digunakan kualitasnya harus baik. Ada beberapa faktor yang dijadikan parameter dalam menilai kualitas suatu perairan, sebagai berikut:
1. Oksigen terlarut antara 3 – 7 ppm, optimal 5 – 6 ppm.
2. Suhu 25 – 330 C.
3. pH air 6,5 – 9,0 ; optimal 7 – 8,5.
4. Karbondioksida (CO2) tidak lebih dari 10 ppm
5. Amonia (NH3) dan asam belerang (H2S) tidak lebih dari 0,1 ppm.
6. Kesadahan 3 – 8 dGH (degress of German total Hardness)
2.3 Pakan dan kebiasaan makan ikan patin (Pangasius sp)                                  Ikan patin (Pangasius sp) memerlukan sumber energi yang berasal dari makanan untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya (SUSANTO, 1996). Dilihat dari kebiasaan makanan ikan dibagi dalam tiga golongan, yaitu ikan pemakan tumbuhan (herbivora), ikan pemakan hewan (carnivora) dan ikan pemakan segala (omnivora).                                                                      Di perairan bebas dan alam, fase larva ikan patin (Pangasius sp)  cenderung bersifat karnivora. Di dalam kolam-kolam pemeliharaan ikan ini bersifat omnivora, yaitu memakan segala macam pakan baik jasad-jasad hewani maupun nabati, misalnya maca-macam buah-buahan dari tumbuhan pinggir sungai, biji-bijian, udang (Crustacea), Molusca, Copepoda, Ostracoda, Cladosera, Isopoda, Amphipoda, cacing dan sisa-sisa organisme lainnya.              Jenis makanan yang dapat dimakan larva berumur sekitar 4 – 5 hari adalah organisme renik berupa plankton. Mula-mula larva ikan memakan plankton nabati (phytoplankton) yang berukuran 100 – 300 mikron, misalnya Brachionus calicyflorus, Synchaeta sp, Notholca sp, Polyarthra platiptera, Hexartha mira, Brachionus falcatus, Asplanchna sp, Chonchilus sp, Filina sp, Brachionus angularis, Karatella cochlearis dan Keratella quadrata (NUGRAHA, 2007).                                                                          Makanan ikan patin (Pangasius sp) berubah sejalan dengan pertambahan umur dan perkembangannya. Benih ikan patin (Pangasius sp)  yang berumur 20 hari sanggup memakan plankton (pakan alami) berukuran 0,5 -2,0 mm. Benih yang cukup besar atau benih tua mulai menyantap makanan alami yang berukuran lebih besar, misalnya Paramaecium, naupli Artemia, Cladocera, (Sida sp., Diaphanasoma sp., Dapnia sp., Moina sp., Bosmina sp., Chidorus sp., dan Copepoda seperti Cyclop sp. (NUGRAHA, 2007).                                              Dilihat dari kebiasaan makan ikan dibagi dalam tiga golongan, yaitu ikan yang biasa makan di dasar, ikan yang biasa makan di tengah perairan dan ikan yang biasa makan di permukaan. Menurut LING et al., (1966) ; DAVID (1963) dalam SOETIKNO (1974) ; DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN (1977) ; ONDARA (1980) ; BUCHANAN (1983), Larva ikan patin (Pangasius sp) cenderung memangsa hewan-hewan kecil lain yang hidup di permukaan sediment atau yang melayang-layang di air, seperti larva insekta dan larva Crustacea. Sedangkan menurut SOETIKNO (1976) dan DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN (1977), ikan patin (Pangasius sp) termasuk ikan bottom feeder.       
                                   
2.4 Keramba jaring apung                                                                                                   Keramba jaring apung adalah sistem budidaya dalam wadah berupa jaring yang mengapung dengan bantuan pelampung dan ditempatkan di perairan seperti danau, waduk, sungai, selat dan teluk. Sistem ini terdiri dari beberapa komponen seperti rangka, kantong jaring, pelampung, jalan inspeksi dan rumah jaga. Kantong jaring terbuat dari bahan polyethelene dan polyprophelene dengan berbagai ukuran mata jaring dan berbagai ukuran benang, berfungsi sebagai wadah untuk pemeliharaan dan treatment ikan. Pelampung terbuat dari drum plastik, drum besi bervolume 200 liter, styrofoam atau gabus yang dibungkus dengan kain terpal yang berfungai untuk mempertahankan kantong jaring tetap mengapung di dekat permukaan air (Seputar Informasi Perikanan dan Kelautan, 2008).    
Gambar 2. Keramba jaring apung . Sumber : (Direktorat jenderal perikanan, Departemen pertanian, 1994)

            Rochdianto (2005) menambahkan, Keramba jaring apung ditempatkan dengan kedalaman perairan lebih dari 2 meter. Beberapa masyarakat ada yang menyebut kantong jaring apung, keramba kolam terapung dan jaring keramba terapung atau disingkat kajapung.

2.5 Kerangka keramba jaring apung                                                                      Kerangka (bingkai) jaring terapung dapat dibuat dari bahan kayu, bambu atau besi yang dilapisi bahan anti karat (cat besi). Memilih bahan untuk kerangka, sebaiknya disesuaikan dengan ketersediaan bahan di lokasi budidaya dan nilai ekonomis dari bahan tersebut.                                                                   Kayu atau bambu secara ekonomis memang lebih murah dibandingkan dengan besi anti karat, tetapi jika dilihat dari masa pakai dengan menggunakan kayu atau bambu jangka waktu (usia teknisnya) hanya 1,5–2 tahun. Sesudah 1,5–2 tahun masa pakai, kerangka yang terbuat dari kayu atau bambu ini sudah tidak layak pakai dan harus direnofasi kembali.  Jika akan memakai besi anti karat sebagai kerangka jaring pada umumnya usia ekonomis/angka waktu pemakaiannya relatif lebih lama, yaitu antara 4–5 tahun.                                      Pada umumnya petani ikan di jaring terapung menggunakan bambu sebagai bahan utama pembuatan kerangka, karena selain harganya relatif murah juga ketersediaannya di lokasi budidaya sangat banyak. Bambu yang digunakan untuk kerangka sebaiknya mempunyai garis tengah 5–7 cm di bagian pangkalnya, dan bagian ujungnya berukuran antara 3–5 cm. Jenis bambu yang digunakan adalah bambu tali. Ada juga jenis bambu gombong yang mempunyai diameter 12-15 cm tetapi jenis bambu ini kurang baik digunakan untuk kerangka karena cepat lapuk.                                                           Ukuran kerangka jaring terapung berkisar antara 5*5 m  sampai 10*10 m.. Kerangka dari jaring apung umumnya dibuat tidak hanya satu petak/kantong tetapi satu unit. Satu unit jaring terapung terdiri dari empat buah petak/kantong.
2.6 Pelampung keramba jaring apung
Pelampung berfungsi untuk mengapungkan kerangka/jaring terapung. Bahan yang digunakan sebagai pelampung berupa drum (besi atau plastik) yang berkapasitas 200 liter, busa plastik (stryrofoam) atau fiberglass. Jenis pelampung yang akan digunakan biasanya dilihat berdasarkan lama pemakaian.
Gambar 3. Pelampung keramba jaring apung.  Sumber : (Direktorat jenderal perikanan, Departemen pertanian, 1994)

Jika akan menggunakan pelampung dari drum maka drum harus terlebih dahulu dicat dengan menggunakan cat yang mengandung bahan anti karat. Jumlah pelampung yang akan digunakan disesuaikan dengan besarnya kerangka jaring apung yang akan dibuat. Jaring terapung berukuran 7*7 m, dalam satu unit jaring terapung membutuhkan pelampung antara 33–35 buah.

2.7 Pengikat keramba jaring apung                                                                        Tali pengikat sebaiknya terbuat dari bahan yang kuat, seperti tambang plastik, kawat ukuran 5 mm, besi beton ukuran 8 mm atau 10 mm. Tali pengikat ini digunakan untuk mengikat kerangka jaring terapung, pelampung atau jaring. Jika akan menggunakan pelampung dari drum maka drum harus terlebih dahulu dicat dengan menggunakan cat yang mengandung bahan anti karat. Jumlah pelampung yang akan digunakan disesuaikan dengan besarnya kerangka jaring apung yang akan dibuat. Jaring terapung berukuran 7*7 m, dalam satu unit jaring terapung membutuhkan pelampung antara 33–35 buah.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXfAe8Rd019CBVbdHgqv0d3F-Lvb4xL3AnGFvN1R06OpALkoTUtfKuAhrmPJnpVKs_B4sz0jAVNK-4g50ZY6nm8AcYDnfViFNa2ngUrEPN_8uir2uBDsfsUm_mHbNaykixCRKwku6OO4Tk/s320/gambar+4.jpg
Gambar 4. Pengikat keramba jaring apung. Sumber : (Direktorat jenderal perikanan, Departemen pertanian, 1994)

2.8 Jangkar keramba jaring apung
            Jangkar berfungsi sebagai penahan jaring terapung agar rakit jaring terapung tidak hanyut terbawa oleh arus air dan angin yang kencang. Jangkar terbuat dari bahan batu, semen atau besi. Pemberat diberi tali pemberat/tali jangkar yang terbuat dari tambang plastik yang berdiameter sekitar 10–15 mm. Jumlah pemberat untuk satu unit jaring terapung empat petak/kantong adalah sebanyak 4 buah. Pemberat diikatkan pada masing-masing sudut dari kerangka jaring terapung. Berat jangkar berkisar antara 50–75 kg.
Jangkar keramba apung.jpg
Gambar 5. Jangkar keramba jaring apung. Sumber : (Direktorat jenderal perikanan, Departemen pertanian, 1994)

2.9 Jaring keramba jaring apung
Jaring yang digunakan untuk budidaya ikan di perairan umum, biasanya terbuat dari bahan polyethylene atau disebut jaring trawl. Ukuran mata jaring yang digunakan tergantung dari besarnya ikan yang akan dibudidayakan. Kantong jaring terapung ini mempunyai ukuran bervariasi disesuaikan dengan jenis ikan yang dibudidayakan, untuk ikan air laut ukuran kantong jaring yang biasa digunakan berukuran mulai 2*2*2 m3 sampai 5*5*5 m3.          Sedangkan untuk jenis ikan air tawar berkisar antara 3*3*3 m3 sampai 7*7*2,5 m3. Untuk mengurangi risiko kebocoran akibat gigitan binatang lain, biasanya kantong jaring terapung dipasang rangkap (doubel) yaitu kantong jaring luar dan kantong jaring dalam. Ukuran jaring bagian luar biasanya mempunyai mata jaring (mesh size) yang lebih besar.                                     Salah satu contohnya adalah sebagai berikut :
a. Jaring polyethylene no. 380 D/9 dengan ukuran mata jaring (mesh size) sebesar 2 inch (5,08 cm) yang dipergunakan sebagai kantong jaring luar.
b. Jaring polyethylene no. 280 D/12 dengan ukuran mata jaring 1 inch (2,5 cm) atau 1,5 inch (3,81 cm) dipergunakan sebagai kantong jaring dalam.                     Jaring yang mempunyai ukuran mata jaring lebih kecil dari 1 inch biasanya digunakan untuk memelihara ikan yang berukuran lebih kecil. Di perairan umum, khususnya dalam budidaya ikan di jaring terapung ukuran jaring yang digunakan adalah ukuran ¾ - 1 inch.                                                                  Kantong jaring yang digunakan untuk memelihara ikan dapat diperoleh dengan membeli jaring utuh. Dalam hal ini biasanya jaring trawl dijual di pasaran berupa lembaran atau gulungan. Langkah awal yang harus dilakukan untuk membuat kantong jaring adalah membuat desain/rancangan kantong jaring yang akan dipergunakan. Ukuran kantong jaring yang akan dipergunakan berkisar antara 2*2 m sampai dengan 10*10 m.                            Setelah ukuran kantong jaring yang akan dipergunakan, misalnya akan dibuat kantong jaring dengan ukuran 7*7*2 m3, langkah selanjutnya adalah memotong jaring. Untuk memotong jaring harus dilakukan dengan benar berdasarkan pada ukuran mata jaring dan tingkat perenggangannya saat terpasang di perairan. Menurut hasil penelitian, jaring dalam keadaan terpasang atau sudah berupa kantong jaring akan mengalami perenggangan atau mata jaring dalam keadaan tertarik/terbuka (”Hang In Ratio”).                                              Nilai ”Hang In Ratio” dalam membuat kantong jaring terapung adalah 30%. Adapun perhitungan yang digunakan untuk memotong jaring ada dua cara, yaitu :
1.      Menggunakan rumus tertentu
2.     
1.       L =       i
          1-S
2.       d = D √ 2S – S2
 
Melakukan perhitungan cara di lapangan. Rumus berdasarkan ”Hang In Ratio” adalah sebagai berikut :


 


                                                                       

Keterangan :
S : Hang In Ratio
L : Panjang jaring sebelum Hang In atau dalam keadaan tertarik
i   : Panjang tali ris
D : dalam kantong jaring (jumlah mata jaring dikalikan ukuran mata jaring dalam keadaan tertarik)
d : dalam kantong jaring sesudah Hang In

2.9.1  Pemberat keramba jaring apung                                                      Pemberat yang digunakan biasanya terbuat dari batu atau timah yang masing-masing beratnya antara 2–5 kg. Fungsi pemberat ini agar jaring tetap simetris dan pemberat ini diletakkan pada setiap sudut kantong jaring terapung.

2.9.2  Tali/tambang keramba jaring apung                                                            Tali/tambang yang digunakan biasanya disesuaikan dengan kondisi perairan, pada perairan tawar adalah tali plastik yang mempunyai diameter 5–10 mm, sedangkan pada perairan laut tali/tambang yang digunakan terbuat dari nilon atau tambang yang kuat terhadap salinitas. Tali/tambang ini dipergunakan sebagai penahan jaring pada bagian atas dan bawah. Tali tambang ini mempunyai istilah lain yang disebut dengan tali ris.                          Panjang tali ris adalah sekeliling dari kantong jaring terapung. Misalnya, kantong jaring terapung berukuran 7*7*2 m3, maka tali risnya adalah 7m*4 sisi = 28m.. Khusus untuk tali ris pada bagian atas sebaiknya dilebihkan 0,5 m untuk setiap sudut. Jadi tali risnya mempunyai panjang 28 m + ( 4*0,5 m) = 30m. Hal ini untuk memudahkan dalam melakukan aktivitas kegiatan operasional pada saat melakukan budidaya ikan.
 BAB 3. METODE PRAKTIK KERJA LAPANG
3.1  Tempat dan waktu praktik kerja lapang
Praktik kerja lapang (PKL) Universitas Muhammadiyah Gresik yang berjudul “Pembesaran Ikan Patin (Pangasius sp) di Keramba Jaring Apung Sungai Bengawan Solo Desa Sidomukti Kecamatan Bungah” akan dilaksanakan di Desa Sidomukti Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik  pada tanggal 26 September 2014 – 9 Desember 2014
3.2  Bahan dan alat penelitian                                                                                               Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 50 benih ikan patin dengan berat rata-rata 8gr, pakan pellet dengan kandungan protein 35%, sedangkan bahan untuk pembuatan keramba jaring apung adalah bambu, tali, kawat, waring, semen, pasir, air dan kabel tis. Peralatan yang digunakan yaitu jaring/seser, ember, mistar plastik,  termometer, pH paper, serta timbangan digital.

3.3  Metode praktik kerja lapang
Metode yang akan digunakan dalam praktek kerja lapangan ini adalah metode deskriptif, yaitu pengumpulan data dari beberapa literatur untuk dijadikan acuan selama Praktek Kerja Lapang. Pengamatan dilakukan selama 1 (satu) kali dalam satu minggu dan pengamatan ini dilakukan dalam waktu 2 (dua) bulan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara dengan melibatkan diri secara langsung dalam pencarian gambaran mengenai pertumbuhan ikan patin yang dipelihara dengan sistem keramba jaring apung.          

3.4  Prosedur penelitian
Prosedur penelitian terbagi menjadi tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi.
3.4.1 Tahap persiapan
       Tahap persiapan dalam penelitian ini adalah persiapan pembuatan keramba jaring apung sebagai media utama pembesaran ikan patin (pangasius sp) di Sungai Bengawan Solo. Persiapan ini meliputi proses pemotongan bambu, pembuatan jangkar dari semen, perangkaian keramba, serta pemasangan keramba.
       Pembuatan keramba jaring apung dimulai pada tanggal 14 September 2014 – 12  Oktober 2014 setiap hari sabtu dan minggu. Bambu yang digunakan berjumlah 14 buah yang terdiri atas 8 buah bambu sebagai kerangka  atas, 2 buah bambu untuk kerangka bawah dan 4 buah bambu dengan tinggi 3m  sebagai tiang yang diletakkan pada tiap sudut bambu.
       Menjahit waring sepanjang 32m dengan mesh size sebesar 250 mm menjadi persegi sebagai  tempat pembesaran ikan patin dalam keramba. Pembuatan jangkar dari bahan semen, pasir dan air yang diletakkan dalam wadah cat bekas dan pemberian pemberat berupa batu pada dasar rangka keramba yang dimasukkan kedalam sebagian waring.
3.4.2 Pelaksanaan pemeliharaan benih ikan patin                                      Melakukan penimbangan benih dengan menggunakan timbangan digital, mengukur panjang total benih,  memasukkan benih ikan patin dengan kepadatan 68 ekor/m² dengan ukuran 8-10 cm. Benih tersebut dipelihara selama 60 hari. Pakan diberikan 2 kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari yaitu pada pukul 09.00 dan 15.00 (Khairuman dan Amri, 2002). Hal tersebut dikarenakan, proses metabolisme dalam tubuh ikan membutuhkan waktu 6 jam untuk mencerna makanan.
       Prosentase pemberian pakan pada minngu pertama sebesar 3% dari bobot awal ikan patin yaitu sebesar 5,29 gr/hari. Pemberian pakan pada minggu kedua dan ketiga sebesar 8% dari bobot ikan patin yaitu sebesar 13,46 gr/hari.
       Melakukan pengukuran kualitas air yang meliputi suhu, pH dan salinitas setiap satu minggu sekali. Melakukan pengukuran panjang dan berat ikan setiap satu minggu sekali dengan menggunakan sampel.
3.4.3 Evaluasi                                                                                             Parameter utama dalam penelitian ini adalah pertumbuhan benih dan kelangsungan hidup. Perhitungan Pertumbuhan benih akan diketahui dengan melakukan pengukuran berat dengan menggunakan timbangan serta menggunakan rumus (Sahoo et al., 2004) :
 Laju pertumbuhan spesifik :
SGR = ln Wt- ln W0 X 100 %
                    t
Keterangan :
SGR    : Laju pertumbuhan spesifik (%g/hari)
Wt       : Berat rata-rata tubuh ikan pada hari ke-n (g)
W0      : Berat rata-rata tubuh ikan pada awal pemeliharaan (g)
  t          : Waktu (hari)



                       
Kelangsungan hidup larva akan diketahui dengan menggunakan rumus (Mukti et al., 2004).

SR (Kelangsungan hidup)= Jumlah burayak akhir perhitungan x 100 %
        Jumlah burayak awal perhitungan
3.5  Jadwal kegiatan
No
Kegiatan
Bulan/minggu
September
Oktober
November
Desember
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Pembuatan keramba jaring apung
















2
Penyusunan proposal PKL
















3
Pemeliharaan ikan patin
















4
Penyusuna laporan


















Daftar pustaka
Sunarma, A. 2007. Panduan Singkat Teknik Pembenihan Ikan Patin (Pangasius hypopthalmus). Sukabumi: BBPBAT.

Susanto dan Amri. 2001. Budidaya Ikan Patin. Jakarta: Penebar Swadaya.

Anonim. 2008. Aspek produksi, budidaya pembesaran ikan patin. http://ikanmania.wordpress.com /2008/01/22/aspek-produksi-budidaya-pembes aran-ikan-patin/. (dimuat pada tanggal 5 April 2009).

Rosman E. 2008. Perubahan pola panen budidaya ikan patin dalam upaya maksimalisasi laba (studi kasus pada petani ikan sifana) [tesis]. Program pascasarjana Manajemen dan Bisnis, Institut Pertanian Bogor.

Asmawi, S. 1986. Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba. Cetakan Kedua. PT. Gramedia, Jakarta. 44 hal.

Djarijah.A.A.2001. Budidaya Ikan Patin. Kanasius. Yogyakarta 87 hal.

Hardjamulia, A. 1975. Cara Memelihara dan Menternakkan Ikan Jambal Siam. Departemen Pertanian, Jakarta.

Pataros, M. dan P. Sitasit. 1976. Induced Spawning . Teknical Paper No. 15 Freswater Fisheries Division. Departement of Fissheries Bangkok, Thailand. 14 p.

Saanin 1984, Subagja Y. 2009. Fortifikasi ikan patin (Pangasius sp) [skripsi]. Fakultas Perikanan

Susanto. Dan K, Amri. 2001. Budidaya Ikan Patin, Penebar Swadaya, Jakarta. 90 hal.

Agribisnis & Aquacultures. 2008. Prospek Usaha Ikan Patin Menjanjikan.
http://citra karyanusantara.blogspot.com/. (Akses 10 November 2009).

Djariah, A.S. 2001. Budi Daya Ikan Patin. Kanisius. Yogyakarta. 87 hal.

Fish blog. 2009. Syarat Hidup dan Kebiasaan Hidup Ikan Patin.http://hobiikan.
blogspot.com/2009/11/syarat-hidup-dan-kebiasaan-hidup-ikan. (Akses 17
Februari 2010)

Hernowo. 2001. Pembenihan Patin Skala Kecil dan Besar, Solusi Permasalahan.
Penebar Swadaya. Jakarta. 66 hal

Kordik, M.G.H. 2005. Budidaya Ika Patin, Biologi, Pembenihan dan Pembesaran.
Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta. 170 hal.

Pontianak Post. 2009. Melihat Program Keramba Jaring Apung. http://www.
pontianakpost.com/. (Akses 08 November 2009).

Rochdianto, A. 2005. Budi Daya Ikan di Jaring Terapung. Penebar Swadaya.
Jakarta. 98 hal

Saputra, H. 1988. Membuat dan Membudidayakan Ikan dalam Kantong Jaring
Apung. Simplek. Jakarta. 71 hal

Sulaeman. 2010. Budidaya Patin. http://budidayaku.blogspot.com/2010/01/
budidaya-patin.html. (Akses 15 Februari 2010)

Susanto, H dan Amri, K. 2002. Budi Daya Ikan Patin. Penebar Swadaya. Jakarta.
90 hal.

Warintek. 2002. Budidaya Ikan Patin (Pangasius pangasius).
Emzir. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Iskandar. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitaif dan Kualitatif). Jakarta: Gaung Persada Group
Sanafiah Faisal. 1990. Penelitian Kualitatif: Dasar-Dasar dan Aplikasi. Malang:
Suharsimi Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: ALFABETA. 2012 (cet. 15)